Diberdayakan oleh Blogger.
.
Latest Post

KPK Jangan main mata donk.. sama mas MARMO

Written By Harian Semarang on Jumat, 16 Desember 2011 | 10.57



Aliansi Elemen Masyarakat Antikorupsi menggelar aksi unjuk rasa di bundaran videotron, Jalan Pahlawan, kemarin.  Mereka menuntut Walikota Soemarmo tidak "cuci tangan" terkait dengan kasus dugaan suap yang melibatkan Sekda Zaenuri dan dua anggota DPRD Semarang, Sumartono dan Agung Purno Sarjono, yang dibongkar tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. HARSEM/CUN CAHYA

Pinang Melintang

Written By Harian Semarang on Selasa, 29 November 2011 | 12.44


Lazimnya, lomba panjat pinang digelar dengan pinang berdiri. Tetapi di Rawa Pening, Kabupaten Semarang, panjat pinang dilombakan dengan bambu melintang di atas sungai. Peserta berjalan di atas pinang yang dilumuri pelumas untuk menggapai hadiah yang digantung di atas. (rif)

(HARSEM/Agung Effendi)

Jembatan Mobil

Demi situasi darurat, demi mendayagunakan benda yang ada, maka rongsokan mobil pun bisa dimanfaatkan untuk jembatan, seperti di kawasan Gayamsari ini. (rif)

Nikah Vespa

Banyak cara dilakukan untuk menarik perhatian, sekaligus menciptakan citra perihal hobinya, seperti pengantin yang penggemar vespa ini. Di hari pernikahannya, pria ini mengangkut sang istri dengan sekuter keliling kota. (rif)

“Jangan Kecelakaan!”

Peringatan untuk berhati-hati bagi pemakai jalan tidak harus diucapkan dengan nada kencang, tetapi bisa pula dituturkan dengan gaya menggelitik seperti yang tertera di papan nama ini, “Dilarang kecelakaan, di sini rumah sakit jauh,” kata si pembuat peringatan di kawasan Gunungpati ini. (rif)

Pura dan Sapi


Kerukunan antarpemeluk agama terhampar di Desa Wonolopo, Mijen, Semarang. Tanah lapang di sebelah Pura Satya Dharma digunakan untuk tempat penjualan hewan kurban, khususnya sapi. Satu bentuk solidaritas yang mahal harganya.

Pos Kamling Gerobak

Minim lahan, bukan berarti warga tak punya pos kamling. Maka, dibuatlah pos kamling semipermanen yang bisa didorong kesana kemari (lihatlah roda-roda di bagian bawah), seperti milik  RT 06/RW 01, Kelurahan Bangunharjo, Semarang Tengah ini. (rif)

“Tak Boleh Lurus”

Di ujung gang ini kita harus belok. Terserah kehendak hati, mau ke kanan atau kiri. Atau balik arah jika belum pasti. Yang jelas, kalau lurus malah celaka, menabrak tiang listrik atau pagar. Dua papan penunjuk arah peribadatan yang berbeda arah tersebut ada di sebuah sudut kawasan Wonodri, Semarang. (nji)

Baju Korpri di Tubuh Pemulung

Dulu, baju Korpri begitu sakral tatkala dikenakan para pegawai negeri. Tetapi, kini saat baju itu tak menjadi busana kebesaran PNS lagi, maka pemulung pun bisa memakainya. (rif)

Selamat Pagi, Mbah Darmi!


Setengah abad sudah Darmi (70) hidup di sela-sela roda sebagai tukang kenteng pelek dan tambal ban, membantu Suhadi (75), sang suami, di Jalan Gajahmada, Semarang. Tiap tetes keringat dari kulitnya yang keriput adalah tumpahan spirit untuk kita yang masih muda perkasa. (rif)


Kapan Ditindak?

Vespa brodol tanpa nopol dan sangat tidak memenuhi syarat menggelinding di jalan raya, ternyata masih bebas hilir mudik di jalanan. Kapan petugas Satlantas tidak malu-malu menertibkan mereka? Mengapa seolah petugas segan menindaknya?  (hes)

Minum Setelah Nggembor

Siapa bilang pengunjuk rasa berpuasa? Lihatlah mereka yang beraksi dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ini, kemarin. Setelah serak meneriakkan tuntutan, mereka pun perlu membasahi rongga tenggorokan. (rif)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Gallery - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger